Uncategorized

Virus Corona, Australia akan Evakuasi Warganya dari Wuhan dan Diisolasi Di Pulau Christmas

Pemerintah Australia menanggapi serius penyebaran wabah virus corona dan mengaku akan mengevakuasi warganya dari Wuhan, China, dengan memberlakukan karantina kepada mereka yang terjangkit virus di sebuah pulau terpencil. Pada pulau tersebut, otoritas Australia ini telah mengoperasikan pusat penahanan imigrasi. Dikutip dari laman The Washington Post, Rabu (29/1/2020), Perdana Menteri Scott Morrison menyampaikan pernyataannya pada Rabu waktu setempat bahwa pihaknya menyiapkan langkah serius dalam menghadapi virus ini.

Ia menyatakan bahwa Australia telah bekerja sama dengan pemerintah China untuk mengevakuasi warganya yang terisolasi dan rentan terinfeksi virus di provinsi Hubei, lokasi di mana kota Wuhan berada. Para warga yang dievakuasi ini nantinya akan dipindahkan ke Pulau Christmas, sebuah wilayah Australia yang berjarak ratusan mil dari daratan di Samudra Hindia. Di pulau ini, Australia diketahui telah mengoperasikan fasilitas penahanan kontroversial bagi para pencari suaka.

Hingga kini belum jelas berapa banyak orang yang akan dievakuasi. Kendati demikian, para pejabat Auatralia menyebut bahwa ada sekitar 600 warga Australia yang terdaftar di provinsi Hubei. "Prioritas akan diberikan kepada kaum muda dan orang tua," kata Morrison kepada awak media di Canberra, Australia, Rabu waktu setempat.

"Siapapun yang dievakuasi dari Wuhan akan diangkut ke Pulau Christmas, mungkin (diisolasi) hingga 14 hari. Namun itu menyesuaikan dengan saran medis yang kami terima nantinya," tegas Morrison. Pemerintah mengkonfirmasi penularan pertama antar manusia pada Selasa (28/1/2020). Seperti yang dilansir SCMP , seorang sopir bus berusia 60 an dinyatakan terinfeksi kemarin (28/1/2020) bersama 3 orang lainnya.

Sopir bus tersebut tidak pernah pergi ke Wuhan, namun ia sempat menyopiri para turis yang berasal dari sana. Terinfeksinya sopir bus tersebut menambah jumlah total pasien dengan di , yaitu menjadi 7 orang per Rabu (29/1/2020). Pemerintah telah meningkatkan upaya untuk mencegah menyebar lebih jauh di , dengan menerapkan langkah langkah mengkarantina pasien.

Sopir bus yang terinfeksi bulan ini mengangkut wisatawan yang berasal dari Wuhan dua kali, kata Menteri Kesehatan Katsunobu Kato. Ia membawa 31 penumpang dari Osaka ke Tokyo tanggal 8 11 Januari. Ia lalu melakukan perjalanan kembali dari 12 hingga 16 Januari dengan 29 penumpang, ungkap seorang pejabat dari Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan.

Saat itu, tidak ada turis yang menunjukkan gejala infeksi yang jelas. Para turis tersebut kini telah kembali ke . Sopir bus mengalami gejala gejala termasuk batuk pada 14 Januari.

Ia pergi ke rumah sakit di Nara tiga hari kemudian tetapi tidak didiagnosis dengan pneumonia hingga hari Sabtu (18/1/2020). Saat ini si sopir dirawat di rumah sakit dalam kondisi stabil. Kementerian Kesehatan juga mengkonfirmasi dua kasus lagi, seorang pria dan wanita berusia 40 an yang sempat berkunjung ke Wuhan.

Pria itu didiagnosis menderita pneumonia di Prefektur Aichi, tengah, sementara wanita itu didiagnosis di Hokkaido. Kekhawatiran atas penyebaran virus di telah meningkat selama liburan Baru Imlek, yang diperkirakan akan membawa masuknya wisatawan . Jepang mengirim pesawat pertama untuk memulangkan warga negaranya dari Wuhan, , titik awal berasal.

Pesawat Boeing 767 yang dioperasikan oleh All Nippon Airways, terbang dari Haneda ke Provinsi Hubei pada Selasa (28/1/2020) untuk mengevakuasi warga negara yang berada di sana. Saat berangkat, penerbangan carteran itu akan membawa 20 ribu masker dan 50 set pakaian pelindung. Pesawat itu dijadwalkan kembali ke pada Rabu (29/1/2020) pagi membawa 200 warga negara .

Penerbangan itu melibatkan dokter dan dua perawat untuk pemeriksaan medis. Mereka yang memiliki gejala seperti demam akan dikirim ke rumah sakit saat mendarat di bandara Haneda Tokyo. Sementara yang tidak memiliki tanda tanda virus dapat pulang dan kemudian bekerja atau sekolah.

Namun mereka diimbau untuk menghindari keramaian dan mengukur suhu mereka dua kali sehari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *