Lifestyle

5 Dampak Sampah Plastik Terhadap Lautan

Plastik ada di mana-mana: Di rumah, kantor, sekolah, dan juga termasuk lautan. Menurut laporan yang diumumkan oleh 2017 International Coastal Cleanup, di antara 10 jenis sampah teratas yang diambil selama adalah bungkus makanan, botol minuman, tas belanjaan, sedotan, dan wadah makanan yang mana semuanya terbuat dari plastik. Bagaimana semuanya bisa sampai di sana? Mengapa ini menjadi masalah?

 

Meskipun sulit untuk mengatakan dengan tepat berapa banyak plastik di lautan, para ilmuwan mengira sekitar 8 juta metrik ton plastik memasuki lautan pada tahun 2010. Itu adalah berat hampir 90 kapal induk, dan masalahnya terus bertambah.

 

Plastik ini hadir dalam berbagai bentuk. Coba pikirkan tentang semua barang plastik yang Anda gunakan setiap hari: sikat gigi yang Anda ambil di pagi hari, tempat bekal makan siang Anda, atau botol tempat Anda minum air setelah berolahraga.

 

Semua hal ini digunakan dan, akhirnya, dibuang. Banyak produk plastik merupakan barang sekali pakai yang dirancang untuk dibuang, seperti wadah makanan. Ini digunakan dan dibuang dengan cepat. Jika limbah ini tidak dibuang atau dikelola dengan benar, dapat berakhir di laut.

 

Tidak seperti jenis sampah lainnya, plastik tidak membusuk. Artinya, plastik dapat bertahan tanpa batas waktu, menimbulkan kerusakan pada ekosistem laut.

 

Beberapa plastik mengapung begitu mereka memasuki laut, meskipun tidak semua melakukannya. Saat plastik dilempar, sebagian besar pecah menjadi potongan-potongan kecil, yang disebut mikroplastik.

 

Berikut adalah 7 dampak sampah plastik terhadap lautan.

 

1. Melukai para hewan di lautan

Penyebab terbesar kerusakan satwa liar di lautan adalah luka fisik atau jebakan. Ikan dan burung laut terjerat dalam hal-hal seperti kantong plastik dan cincin minuman plastik.

 

Hal ini dapat menyebabkan luka yang menyakitkan, tercekik, atau bahkan tenggelam. Burung, mamalia, dan reptilia yang hidup di laut, tetapi masih membutuhkan udara untuk bernafas, dapat menjadi begitu terjerat sehingga mereka tidak dapat muncul ke permukaan untuk mencari oksigen, dan mereka tenggelam.

 

Hingga kini telah banyak video dan gambar viral yang menyayat hati yang menunjukkan luka parah yang dialami beberapa kehidupan laut akibat pencemaran di lautan kita. Siapa yang bisa melupakan video penyu yang menyentak air mata dengan sedotan menempel di hidungnya, hiu paus yang terjebak dalam tali pancing komersial, atau kuda laut mungil yang memegang cotton bud. (1)

 

Meskipun konten ini mungkin memilukan untuk ditonton, namun komunikasinya sangat membantu untuk meningkatkan kesadaran akan masalah di seluruh dunia ini.

 

2. Dianggap salah sebagai makanan oleh para hewan

Bahaya utama plastik lainnya di laut kita adalah sering disalah artikan sebagai makanan dan dimakan oleh kehidupan laut. Makhluk yang tidak menaruh curiga ini mengkonsumsi plastik, yang dapat mencekik mereka, menyebabkan luka dalam atau perlahan membuat mereka kelaparan sampai mati.

 

Salah satu film dokumenter buatan BBC, Drowning in Plastic, menceritakan kisah koloni burung penciduk di lepas pantai Australia dan Selandia Baru.

 

Burung penciduk makan lebih banyak plastik daripada mamalia lain dan mati kelaparan. Mereka sering tanpa sadar memberi makan pecahan plastik kepada anak-anaknya, mengisi perut mereka dan tidak menyisakan ruang untuk makanan.

 

Para pemula kemudian tidak mendapatkan nutrisi yang mereka butuhkan dan tidak dapat menjaga diri mereka sendiri saat mereka pergi ke laut.

 

Untuk menyelamatkan burung-burung ini, para ahli biologi telah menangkap anak-anaknya dan membilas perut mereka dengan air laut. Ilmuwan mengklaim telah mengambil hingga 250 potongan plastik dari seekor burung.

 

Kasus ini hanyalah satu dari sekian banyak kejadian di mana para hewan salah mengartikan plastik sebagai sumber makanan. (1)

 

3. Mikroplastik

Mikroplastik kecil memasuki lautan kita sebagai plastik kecil seperti microbeads dari kosmetik atau serat dari pakaian sintetis. Tapi mereka juga bisa dibuat di laut karena elemennya memecah barang plastik yang lebih besar. Pikirkan berapa banyak potongan kecil plastik yang dapat dibuat dari satu kantong plastik!

 

Ilmuwan mulai menemukan mikroplastik di laut dan kehidupan burung. Sebuah studi baru-baru ini dari Universitas Plymouth, meneliti 504 ikan yang ditangkap di lepas pantai South West England dan menemukan sepertiganya mengandung mikroplastik. Pada burung laut saja, mikroplastik ditemukan mengganggu penyerapan zat besi di usus kecil dan memberi tekanan pada hati. (1)

 

4. Membahayakan Nelayan

Material plastik dibuat dengan bahan yang fleksibel dan juga kokoh. Bahan baku yang digunakan bisa mengotori perairan dan bahkan menjadi lautan sampah.

Hal ini bisa membuat kapal nelayan tersangkut saat berlayar. Mungkin terkesan berlebihan, tapi material plastik membutuhkan ratusan tahun untuk terurai. Tanpa terasa, sudah ada jutaan ton sampah plastik yang tergenang di dasar laut.

 

Selain itu juga dengan banyaknya sampah plastik, dapat membuat nelayan kesulitan mencari ikan yang mana pada akhirnya juga menghalau mereka dari mencari mata pencaharian sehari-hari. (2)

 

5. Merubah ekosistem

Jika di sungai saja sudah terjadi polusi yang disebabkan sampah plastik, maka dampaknya juga dapat terasa di ekosistem laut. Ini karena ikan-ikan air tawar yang tidak nyaman berada di sungai akan terus menyusuri perairan hingga mencapai laut.

 

Hal ini pada akhirnya dapat mengubah ekosistem laut dengan munculnya spesies baru. Dan juga perlu diingat bahwa permasalahan akan semakin parah karena tidak semua ikan yang bisa hidup di air tawar juga bisa bertahan hidup di laut. (2)

 

Itulah tadi 5 sumber dari sampah plastik yang dapat membahayakan ekosistem lautan kita. Bicara tentang daur ulang sampah plastik, AQUA yang merupakan merek warisan indonesia, selalu berupaya untuk membawa kebaikan bagi masyarakat dengan berinovasi dalam mempromosikan hidrasi sehat dan juga melestarikan alam kita serta melayani masyarakat melalui perlindungan sumber daya air, meminimalisir karbon emisi dan memelopori daur ulang kemasan.

 

Lewat upaya ini, AQUA meluncurkan komitmen #BijakBerplastik sebagai langkah untuk mengajak kamu semua lebih peduli terhadap lingkungan, salah satunya adalah dengan berencana untuk membuat seluruh kemasan kami 100% dapat didaur ulang, digunakan kembali, dan dapat terurai pada 2025 dan juga meningkatkan proporsi plastik daur ulang dalam botol kami dari 25% mengandung materi recycled menjadi 50% pada 2025.

 

Source:

  1. https://oceanservice.noaa.gov/hazards/marinedebris/plastics-in-the-ocean.html
  2. https://www.republika.co.id/berita/pinmg0409/resahnya-nelayan-soal-sampah-plastik-di-lautan
  3. https://nationalgeographic.grid.id/read/131244353/perilaku-manusia-dan-dampak-sampah-plastik-yang-menewaskan-hewan-laut?page=all